fbpx

makna dalam diam

Kehidupan di kota besar yang sangat sibuk dan ramai, sering kali membuatku terbiasa hidup dalam bising suara yang tidak menentu. Aku terbiasa dengan teriakan dan suara-suara yang saling berebut adu kencang supaya bisa di dengar. Terbiasa untuk mengabaikan hal-hal kecil yang tidak penting bagiku. Terbiasa dengan kehidupan tergesa-gesa dan tanpa sadar menjadikanku pribadi yang tidak sabaran.

Ya…aku terbiasa hidup dengan kompetisi yang tinggi, kebisingan yang menjadi biasa mengisi hari-hariku, keributan yang menggantikan kicauan burung dan deru angin yang berbisik lembut di pagi hari. Ya…aku sudah tidak sempat lagi, menikmati merdunya suara kicau burung di pagi hari, mendengar sapaan sejuk dari derunya angin di pagi hari, bahkan aku tidak punya waktu lagi untuk hanya sekedar menikmati sejuknya udara di pagi hari. Ya…semua yang kusukai saat aku kecil, sudah tidak ada lagi.

Kebisingan ini sudah menjadi bagian dari jiwaku, bagian dari rasa yang kuhidupi dalam hari-hariku, mulai dari aku membuka mata di pagi hari sampai aku menutupnya kembali di malam hari. Sampai-sampai aku lupa bahwa jiwaku butuh ketenangan dan rasaku hampir mati di dalam kesibukkan hari-hariku.

Suara alam sudah tidak bisa lagi kudengar dan kurasakan. Kompetisi dan kerasnya dunia kerjaku sudah menjadi bagian dalam jiwaku. Sampai-sampai aku tidak tahu lagi kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Kapan harus mengalah, kapan harus bertahan. Tidak tahu lagi waktu yang tepat untuk maju, mundur atau diam. Semua membaur menjadi satu, penuh sesak di kepalaku dan di dalam batinku. Ya…bahkan aku sudah tidak tahu lagi apa yang sebenarnya yang kuingini dalam hidup ini.

Sampai suatu hari…aku harus kehilangan pribadi yang sangat kusayangi dan kuhormati. Aku kehilangannya. Kehilangan ini menyadarkanku, bahwa aku sebenarnya tidak tahu lagi apa yang aku inginkan untuk diriku sendiri. Aku hanya tahu, aku tidak punya kekuatan untuk membunuh rasa sayang ini, tetapi akupun sudah tidak punya daya untuk mempertahankannya bahkan sama sekali tidak memiliki asa untuk memperbaikinya.

Sampai akhirnya aku sadar, saat ini aku hanya butuh diam dalam hening yang panjang untuk menata hidupku kembali. Hidup yang hampir tidak memiliki asa lagi, hidup yang sudah tidak ada arah dan tujuan lagi, karena dia telah pergi dan belum tentu kembali.

Satu kekuatan terakhirku yang masih tersisa sedikit sekali adalah kekuatan untuk aku memilih menjadi sniper dalam hening daripada menjadi speaker untuk menjalani sisa hidup ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website