fbpx

detik-kehidupan

Dua bulan yang lalu, jantungku sempat berhenti berdetak walaupun hanya dalam hitungan beberapa detik saja. Degub jantungku berhenti dan pikiranku pergi meninggalkan tubuhku ke beberapa tahun yang telah silam. Ruangan putih bersih dengan suhu udara yang sangat dingin kembali memenuhi isi kepalaku. Langkah-langkah gemetar yang harus kutahan kembali menyusup dalam ingatanku. Sepenggal kalimat bagaikan halintar menyambar kembali ke gendang telingaku dan seketika itu juga duniaku menjadi gelap gulita, tanpa cahaya, tanpa rasa, tanpa asa, tanpa bisa berbuat apa-apa.

Seperti biasa, aku menjalani hidupku seakan-akan semua baik-baik saja, tidak ada masalah sama sekali. Aku sangat ahli memainkan peranku yang satu ini. Peran yang telah aku pelajari dan kulatih sejak aku kecil sampai sekarang. Aku latih terus sampai menyatu dengan jiwa dan kalbuku. Rasa sakitpun semakin tidak dapat kubedakan lagi, kekecewaan, kesedihan, keputusasaan semua sudah menjadi sahabat karib dalam hidupku. Aku sudah menerima mereka apa adanya karena memang aku tidak mampu mengusirnya.

Pernah sesaat dalam hidupku, aku merasakan kebahagiaan, tapi tidak pernah berlangsung lama karena mereka cemburu, mereka selalu memaksaku untuk kembali menjadi sahabat mereka. Mau aku tolak, tapi aku tidak punya daya untuk menolaknya, sementara kebahagiaan belum sepenuhnya percaya kepadaku bahwa aku sungguh membutuhkannya dan menyayanginya.

Setiap kebahagiaan datang dalam hidupku, selalu saja mendapat serangan dari sahabat-sahabat masa laluku yang tidak mampu aku singkirkan. Dan sekarang kebahagiaan itu pergi lagi dari hidupku. Pergi jauh sekali dan belum tentu dapat kugapai lagi.

Ingin rasanya aku berteriak sekeras mungkin agar seluruh dunia tahu bahwa aku tidak seperti yang mereka lihat. Hidupku tidak baik-baik saja. Aku tidak bahagia seperti yang mereka tahu. Aku tidak sekuat yang mereka pikir. Aku memang tertawa, bercanda, berhasil dalam banyak hal, tapi semua itu hanya semu, hanya untuk menutupi keadaanku yang sebenarnya. Aku terpaksa melakukan semua ini. Sangat terpaksa karena aku tidak punya pilihan lain untuk bertahan hidup.

Andai saja ada yang tahu, bahwa aku lebih takut menyayangi seseorang daripada takut mati, tapi apakah ada yang bisa mengerti? Jangankan untuk mengerti, mungkin untuk sekedar percaya saja kepadaku rasanya mustahil. Orang baik-baik, orang suci, satupun tidak akan ada yang mengerti dan percaya kepadaku. Hanya orang-orang yang terbuang yang dianggap sampah dan jahat di dunia ini yang bisa percaya kepadaku. Tapi, jika hanya mereka yang percaya kepadaku, kapan aku bisa terlepas dari semua ini?, karena mereka sama saja denganku. Sesungguhnya kami semua sama, hanya berusaha terlihat kuat dan baik-baik saja, tapi sebenarnya kami hanyanya tubuh yang bernyawa tapi tanpa jiwa.

Aku takut untuk punya rasa sayang, karena rasa itu hanya akan membunuhku. Rasa itu hanya akan menyakitiku, rasa itu akan membuatku dibenci. Rasa sayang itu selalu mengancamku dan menyudutkanku. Rasa sayang itu menyudutkanku sampai aku tidak bisa berkutik kecuali mengikuti kemauannya. Rasa sayang itu memaksaku memilih yang tidak mau aku pilih.

Sekarang semua sudah terlambat, sudah hilang lepas tanpa bekas dan tinggalku sendiri dalam duka tanpa air mata. Ditemani oleh kebisuan yang menusuk ke dalam jiwa. Dia telah pergi dan mungkin tidak akan kembali lagi. Memang aku yang membuatnya pergi jauh dari hidupku karena hanya ini satu-satunya yang mampu kulakukan untuk menyelamatkannya. Dia tidak tahu, semua orang tidak tahu, hanya sahabat-sahabat masa laluku yang tahu, hanya orang-orang terbuang dan sampah bagi dunia ini yang bisa mengerti.

Nasi sudah menjadi bubur dan aku rela menahan sakit seumur hidupku asalkan dia tetap hidup dalam mimpi yang ingin diraihnya. Aku bahagia bila melihatnya bahagia. Asal kutahu dia baik-baik saja, sudah cukup bagiku.

Sekarang aku sudah siap jika halintar masa laluku menyambarku dan membawaku pergi dari sini untuk selamanya, karena aku sudah melakukan semua yang terbaik yang bisa kulakukan untuknya. Memang cara yang kulakukan tidak bisa diterima oleh orang baik-baik, suci dan  terhormat di dunia ini, tapi aku rela menanggungnya tanpa pembelaan sama sekali. Karena bagiku, dia jauh lebih penting dari hidupku sendiri.

Ya…aku menyayanginya lebih dari yang dunia ini  mengerti. Ini adalah rahasia hatiku yang terdalam, hanya aku dan Tuhan yang tahu. Satu harapan yang kupanjatkan dalam doa di tengah-tengah keputusasaanku yang paling dalam, yang sudah tidak memiliki daya dan asa lagi,  kusisahkan sedikit tenaga dan keberanian untuk memohon kepadaMu, “Tuhan, berikanlah aku kesempatan untuk berlutut mencium kakinya sebagai tanda sayang dan hormatku yang terakhir kalinya sebelum Kau mengajakku pulang ke rumah bersamaMu.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website